Rabu, 10 Februari 2010

Pemanfaatan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar IPA di Kelas IV SDN 2 Payunga Kecamatan Batudaa Kabupaten Gorontalo

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha dasar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagaman, pengendalian diri, kepribadian diri, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. (UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, Bab 1 pasal 1 ayat 1). Untuk dapat mewujudkan tujuan pendidikan nasional, maka mutlak diperlukan suatu proses pembelajaran yakni suatu proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar yang efektif pada suatu lingkungan belajar.
Pada tingkat sekolah dasar seorang guru harus mampu membangkitkan daya kritis dan nalar siswa melalui varisai. Oleh sebab itu guru harus melakukan berbagai riset dan inovasi dengan cara guru harus mencari solusi dalam memecahkan permasalahan yang muncul dalam rutinitas proses belajar mengajar.
Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), merupakan salah satu pelajaran inovatif yang menentukan lulus tidaknya seorang siswa. Hal ini sesuai dengan petunjuk pelaksanaan UAS (Ujian Akhir Sekolah) yang menetapkan standarisasi kelulusan untuk setiap mata pelajaran adalah 70. oleh sebab itu mutu pelajaran IPA ini pelu di tingkatkan, karena pendidikan IPA di SD merupakan fondasi atau peletak dasar bagi penguasaan mata pelajaran IPA untuk jenjang pendidikan selanjutnya.
Dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam belum sepenuhnya efektif dan efisien. Masih banyak siswa SD yang menyenangi pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Hal ini terlibat dari berbagai indikator seperti rendahnya respon dan motifasi siswa selama pembalajaran berlangsung. Bahkan lebih dari itu seorang siswa yang bolos pada pelajaran IPA. Kondisi siswa seperti ini masih ditambah lagi dengan cara penyajian materi yang kurang menarik sehingga tidak memotifasi siswa untuk belajar pelajaran IPA.
Mata pelajaran IPA yang berkaitan erat dengan alam sekitar, mengarahkan guru untuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar. Keberadaan lingkungan sekitar siswa yang mendukung proses pembelajaran IPA saat menguntungkan bagi peserta didik untuk memanfaatkannya sebagai media pembelajaran. Dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar IPA, maka diharapkan dapat membantu dalam peningkatan mutu pembelajaran siswa dalam proses pembelajaran.
Namun kenyataan yang terjadi di Kelas V SDN 2 Payunga Kecamatan Batudaa Kabupaten Gorontalo bahwa pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar belum berjalan sesuai dengan harapan. Hal ini dapat dilihat dari setiap pembelajaran, guru hanya menggunakan metode ceramah dan menggunakan media pembelajaran yang telah disediakan dari sekolah, sementara sumber belajar yang ada di sekitar lingkungan sekolah terabaikan begitu saja.
Berdasarkan uraian tersebut, maka penulis tertarik untuk mengadakan suatu penelitian deskriptik dengan judul ” Pemanfaatan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar IPA di Kelas IV SDN 2 Payunga Kecamatan Batudaa Kabupaten Gorontalo”.

1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, maka ada sejumlah masalah yang dapat diidentifikasi adalah “Rendahnya pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar IPA di sekolah.

1.3 Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah, maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan yaitu “Bagaimanakah pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar di Kelas V SDN 2 Payunga Kecamatan Batudaa Kabupaten Gorontalo?.

1.4 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pentingnya pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar di kelas V SDN 2 Payunga Kecamatan Batudaa Kabupaten Gorontalo.

1.5 Manfaat Penelitian
Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini secara operasional mempunyai manfaat sebagai berikut:
1.5.1 Bagi Siswa
Materi hasil penelitian ini akan sangat bermanfaat bagi siswa dalam pembelajaran IPA dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar
1.5.2 Bagi sekolah
Menjadi dasar pemikiran bagi sekolah untuk menyusun rencana program Pembelajaran dengan memberdayakan pembelajaran yang berpusat pada kebutuhan siswa melalui pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar.
1.5.3 Bagi Guru
Dengan hasil penelitian tindakan kelas ini guru dapat memperoleh solusi terbaik dalam merancang suatu pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar.
1.5.4 Bagi Peneliti
Hasil penelitina ini akan memberikan sumbangan berharga bagi sekolah itu sendiri sebagai bahan kajian dalam mencari alternatif pemecahan masalah.






BAB II
KAJIAN TEORETIS

2.1 Kajian Teoretis
2.1.1 Hakekat Pembelajaran IPA di SD
Berhubungan dengan pembelajaran IPA di sekolah dasar, Piaget (Samatowa, (2006:15 ) menjelaskan bahwa “pengalaman langsung memegang peranan penting sebagai pendorong lajunya perkembangan kognitif anak”.
Pengalaman langsung anak terjadi secara spontan sejak lahir sampai anak berumur 12 tahun. Efesiensi penglaman langsung tergantung pada konsisten antara hubungan metode dan objek dengan tingkat perkembangan kognitif anak.anak akan siap untuk mengembangkan konsep tertentu hanya bila anak telah memiliki struktur kognitif (skomata) yang menjadi prasyaratan yakni perkembangan kognitif yang bersifat hirarkis dan intregratif.
IPA sebagai disiplin ilmu dan penerapannya dalam masyarakat membuat pendidikan IPA menjadi penting, tetapi pengajaran IPA yang bagaimanakah yang paling tepat untuk anak-anak? Oleh karena struktur kognitif ilmuan, pada hal mereka perlu diberikan kesempatan untuk berlatih keterampilan-keterampilan proses IPA yang perlu didefinisikan sesuai dengan tahap perkembangan kognetifnya.
Setiap guru harus memahami akan alasan mengapa suatu mata pelajaran yang diajarkan perlu di ajarkan di sekolahnya.Demikian halnya dengan guru IPA, sebagai guru mata pelajaran maupun sebagai guru kelas, seperti halnya di sekolah dasar. Ia harus tahu benar kegunaan-kegunaan apa saja yang dapat membentuk pribadi anak berpikir kritis.
Ilmu Pengetahuan Alam di Sekolah Dasar merupakan pelajaran yang amat penting yang dimasukan ke dalam kurikulum suatu sekolah sebab IPA sangat berfaedah bagi kehidupan atau pekerjaan anak dikemudian hari, melatih anak untuk berpikir kritis dan mempunyai potensi dan dapat membentuk pribadi anak berpikir kritis.

2.1.2 Hakekat Sumber Belajar dan Tujuan Sumber Belajar
Suparno (1999:74) menjelaskan bahwa sumber belajar adalah manusia, bahan, kejadian / perisrtiwa, setting, teknik yang membangun kondisi yang memberikan kemudahan bagi anak didik untuk belajar memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap.
Banyak tempat disekitar kita yang berpotensi menjadi sumber belajar tetapi luput dari perhatian peserta didik. Dikota-kota besar terdapat museum, kebun binatang, kebun raya, aquarium tetapi belum semua sepenuhnya dimanfaatkan . didaerah terpencil juga terdapat berbagai macam sumber belajar tetapi guru/ pendidik kurang memperhatikan lingkungannya. Misalnya halaman sekitar sekolah bisa dimanfaatkan sebagai sumber belajar apabila guru mau memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar.
Suparno (1999:75) juga menjelaskan tujuan sumber belajar adalah membantu siswa untuk belajar lebih efektif dan efisien dengan meningkatkan kualitas sistem pembelajaran. Secara tidak langsung peningkatan tersebut terjadi karena sumber belajar juga membantu guru mempersiapkan dan melaksanakan proses pembelajaran dengan lebih baik. Untuk kegiatan- kegiatan guru yang bisa digantikan dengan media, yang bisa dipelajari sendiri oleh siswa, berarti sebagian beban guru terkurangi.
Sumartono, (1987:128) menjelaskan bahwa lingkungan sebagai sumber belajar juga berfungsi sebagai media pembelajaran. Media sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar adalah suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri karena gurulah yang menghendakinya untuk membantu tugas guru dalam menyampaikan pesan-pesan dari bahan pelajaran yang diberikan oleh guru kepada anak didik. Guru sadar bahwa tanpa bantuannya dia, maka bahan pelajaran sukar untuk dicerna dan sipahami oleh setiap anak didik terutama bahan pelajaran yang rumit atau kompleks. (Djamarah dan Zain, 2003:144).

2.1.3 Kriteria Memilih Sumber Belajar
Muhibbin. (2001:139) menjelaskan bahwa dalam memilih sumber belajar harus memperhatikan kriteria sebagai berikut: (1) ekonomis: tidak harus terpatok pada harga yang mahal; (2) praktis: tidak memerlukan pengelolaan yang rumit, sulit dan langka; (3) mudah: dekat dan tersedia di sekitar lingkungan kita; (4) fleksibel: dapat dimanfaatkan untuk berbagai tujuan instruksional dan; (5) sesuai dengan tujuan: mendukung proses dan pencapaian tujuan belajar, dapat membangkitkan motivasi dan minat belajar siswa. (http:www.google.artikel pembelajaran. PelangiNett.Gorontalo)

2.1.4 Fungsi Sumber Belajar
Sumber belajar memiliki fungsi :
a. Meningkatkan produktivitas pembelajaran dengan jalan: (a) mempercepat laju belajar dan membantu guru untuk menggunakan waktu secara lebih baik dan (b) mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga dapat lebih banyak membina dan mengembangkan gairah.
b. Memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual, dengan cara: (a) mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisional; dan (b) memberikan kesempatan bagi siswa untuk berkembang sesuai dengan kemampuannnya.
c. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran dengan cara: (a) perancangan program pembelajaran yang lebih sistematis; dan (b) pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi oleh penelitian.
d. Lebih memantapkan pembelajaran, dengan jalan: (a) meningkatkan kemampuan sumber belajar; (b) penyajian informasi dan bahan secara lebih kongkrit.
e. Memungkinkan belajar secara seketika, yaitu: (a) mengurangi kesenjangan antara pembelajaran yang bersifat verbal dan abstrak dengan realitas yang sifatnya kongkrit; (b) memberikan pengetahuan yang sifatnya langsung.
f. Memungkinkan penyajian pembelajaran yang lebih luas, dengan menyajikan informasi yang mampu menembus batas geografis.

2.1.5 Manfaat Sumber Belajar
Suparno, (1999: 41) menyebutkan bahwa ada beberapa manfaat sumber belajar yakni :
1. Secara umum sumber belajar bermanfaat membantu siswa belajar lebih baik. Pemahaman akan konsep, prinsip, dan prosedur secara benar, akan lebih menjadi lenggang menjadi milik siswa jika mereka mengalami proses belajar yang bermakna. Hasil belajar tersebut dapat digunakan untuk memahami dan memecahkan masalah dalam waktu dan situasi yang berbeda.
2. Sumber belajar dapat mengakkrabkan siswa maupun guru dengan lingkungan sekitar.
3. memungkinkan guru merancang dan melaksanakan program pembelajaran dengan baik.
4. mendorong penerapan pembelajaran siswa aktif.
5. kerjasama antar guru menumbuhkan rasa kebersamaan dan dngan demikian meningkatkan semangat kerja guru.
6. adanya sumber belajar memungkinkan anak yang cepat belajar untuk melakukan kegiatan pengayaan pengalaman belajarnya. Sebaliknya bagi anak yang lambat dimungkinkan untuk mempelajari bahan media dan bekerja dengan alat yang ada sumber belajaar masuk memperbaiki hasil belajarnya. 

2.1.6 Memanfaatkan Lingkungan sebagai Sumber Belajar
Lingkungan merupakan salah satu sumber belajar yang amat penting dan memiliki nilai-nilai yang sangat berharga dalam rangka proses pembelajaran siswa. Lingkungan dapat memperkaya bahan dan kegiatan belajar.
Basuki, (1993:39) menyebutkan bahwa lingkungan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar terdiri dari : (1) lingkungan sosial dan (2) lingkungan fisik (alam). Lingkungan sosial dapat digunakan untuk memperdalam ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan sedangkan lingkungan alam dapat digunakan untuk mempelajari tentang gejala-gejala alam dan dapat menumbuhkan kesadaran peserta didik akan cinta alam dan partispasi dalam memlihara dan melestarikan alam.
Pemanfaatan lingkungan dapat ditempuh dengan cara melakukan kegiatan dengan membawa peserta didik ke lingkungan, seperti survey, karyawisata, berkemah, praktek lapangan dan sebagainya. Bahkan belakangan ini berkembang kegiatan pembelajaran dengan apa yang disebut out-bond, yang pada dasarnya merupakan proses pembelajaran dengan menggunakan alam terbuka.
Di samping itu pemanfaatan lingkungan dapat dilakukan dengan cara membawa lingkungan ke dalam kelas, seperti : menghadirkan nara sumber untuk menyampaikan materi di dalam kelas. Agar penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar berjalan efektif, maka perlu dilakukan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi serta tindak lanjutnya.

2.1.7 Prinsip-prinsip Sumber Belajar
Sumber belajar yang terdapat di lingkungan sekitar, ada yang berupa benda-benda atau peristiwa yang langsung dapat kita pergunakan sebagai sumber belajar. Selain itu, ada pula benda-benda tertentu yang harus kita buat terlebih dulu sebelum dapat kita pergunakan dalam pembelajaran. Media yang perlu kita buat itu biasanya berupa alat peraga sederhana dengan menggunakan bahan-bahan yang terdapat di lingkungan kita. Jika kita harus membuat media belajar semacam itu, maka ada beberapa prinsip pembuatan yang perlu kita perhatikan, yaitu :
a. Media yang dibuat harus sesuai dengan tujuan dan fungsi penggunaannya.
b. Dapat membantu memberikan pemahaman terhadap suatu konsep tertentu, terutama konsep yang abstrak.
c. Dapat mendorong kreatifitas siswa, memberikan kesempatan kepada siswa untuk bereksperimen dan bereksplorasi (menemukan sendiri)
d. Media yang dibuat harus mempertimbangkan faktor keamanan, tidak mengandung unsur yang membahayakan siswa.
e. Dapat digunakan secara individual, kelompok dan klasikal
f. Usahakan memenuhi unsur kebenaran substansial dan kemenarikan
g. Media belajar hendaknya mudah dipergunakan baik oleh guru maupun siswa
h. Bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat hendaknya dipilih agar mudah diperoleh di lingkungan sekitar dengan biaya yang relatif murah
i. Jenis media yang dibuat harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan sasaran didik

2.1.8 Jenis-jenis Sumber Belajar
Pada bagian sebelumnya, kita telah mengenal adanya dua jenis sumber belajar, yaitu sumber belajar yang dirancang (by design resources) dan sumber belajar yang dimanfaatkan ( by utility resources). Berbagai benda yang terdapat di lingkungan kita dapat kita kategorikan ke dalam jenis sumber belajar yang dimanfaatkan (by design resources) ini. Dibanding dengan dengan jenis sumber belajar yang dirancang, jenis sumber belajar yang dimanfaatkan ini jumlah dan macamnya jauh lebih banyak. Oleh karena itu, sangat dianjurkan setiap guru mampu mendayagunakan sumber belajar yang ada di lingkungan ini. Pengertian lingkungan dalam hal ini adalah segala sesuatu baik yang berupa benda hidup maupun benda mati yang terdapat di sekitar kita ( di sekitar tempat tinggal maupun sekolah). Sebagai guru, kita dapat memilih berbagai benda yang terdapat di lingkungan untuk kita jadikan media dan sumber belajar bagi siswa di sekolah. Bentuk dan jenis lingkungan ini bermacam macam, misalnya : sawah, hutan, pabrik, lahan pertanian, gunung, danau, peninggalan sejarah, musium, dan sebagainya.
Media di lingkungan juga bisa berupa benda-benda sederhana yang dapat dibawa ke ruang kelas, misalnya : batuan, tumbuh-tumbuhan, binatang, peralatan rumah tangga, hasil kerajinan , dan masih banyak lagi contoh yang lain. Semua benda itu dapat kita kumpulkan dari sekitar kita dan dapat kita pergunakan sebagai media pembelajaran di kelas. Benda-benda tersebut dapat kita perloeh dengan mudah di lingkungan kita sehari-hari. Jika mungkin, guru dapat menugaskan para siswa untuk mengumpulkan benda-benda tertentu sebagai sumber belajar untuk topik tertentu. Benda-benda tersebut juga dapat kita simpan untuk dapat kita pergunakan sewaktu-waktu diperlukan.

2.1.9 Keuntungan Memanfaatkan Lingkungan sebagai Sumber Belajar
Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber pembelajaran memiliki banyak keuntungan. Beberapa beberapa keuntungan tersebut antara lain :
a. Menghemat biaya, karena memanfaatkan benda-benda yang telah ada di lingkungan.
b. Praktis dan mudah dilakukan, tidak memerlukan peralatan khusus seperti listrik.
c. Memberikan pengalaman yang riil kepada siswa, pelajaran menjadi lebih konkrit, tidak verbalistik.
d. Karena sumber belajar tersebut berasal dari lingkungan siswa, maka benda-benda tersebut akan sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan siswa. Hal ini juga sesuai dengan konsep pembelajaran kontekstual (contextual learning).
e. Pelajaran lebih aplikatif, maksudnya materi belajar yang diperoleh siswa melalui media lingkungan kemungkinan besar akan dapat diaplikasikan langsung, karena siswa akan sering menemui benda-benda atau peristiwa serupa dalam kehidupannya sehari-hari.
f. Media lingkungan memberikan pengalaman langsung kepada siswa. Dengan media lingkungan, siswa dapat berinteraksi secara langsung dengan benda, lokasi atau peristiwa sesungguhnya secara alamiah.
g. Lebih komunikatif, sebab benda dan peristiwa yang ada di lingkungan siswa biasanya mudah dicerna oleh siswa, dibandingkan dengan media yang dikemas (didesain).

2.1.10 Lingkungan Sekitar Sebagai Sumber Belajar Materi Hijau Daun pada Pembelajaran IPA
Berbagai sumber belajar disekolah, apakah cukup tersedia sumber belajar dilingkungan sekitar? Salah satu cara untuk mengefektifkan lingkungan sebagai sumber belajar adalah dengan membawa para peserta didik keluar dari ruangan kelas dan menuju kebun sekolah atau halaman sekolah. Khususnya pada materi Hijau daun, siswa diarahkan kepada salah satu tanaman yang mempunyai daun serta menjelaskan secara detail tentang materi pelajaran sehingga siswa benar-benar mengerti dengan materi pelajaran.
Pembelajran ilmu pengetahuan alam (IPA) disekolah dasar (SD) dapat dilakukan dilur kelas (out door education) dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagi sumber belajar. Pembelajaran lebih menyenangkan dibandingkan guru hanya ceramah atau diskusi didalam kelas, karena siswa dapat secara konkrit melihat, memegang, dan mendiskusikan objek yang sedang dipelajari. Sebagai contoh guru sering menjelaskan alat perkembang biakan tumbuhan secara vegetatif alami dengan geragi/ stolon.
Dalam rangka menunjang implementasi pembelajaran berdasarkan kurikulum berbasis kompetensi guru dapat memberdayakan lingkungan sekitar sehingga dapat menjadi taman sains yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran IPA diluar kelas ( out door education). Hal ini dapat dilakukan dengan menanami kebun sekolah jika ada, dan jika sekolah tidak mempunyai kebun dapat dibuat pola penanaman tumbuhan dengan penanaman bertingkat (vertikultur). Dengan adanya kebun sekolah, siswa mampu mengaplikasikan segala materi pelajaran bersama alat peraga langsung yang berasal dari alam sebagai media pembelajaran.
Dengan tanaman sains yang ada disekolah, siswa dapat belajar secara lebih bermakna, lebih menyenangkan dan kreatif. Sebagian besar kompetensi siswa dalam bidang sains dapat digali dan tumbuh melalui taman sains. Kerja ilmiah dan sikap ilmiah siswa juga dapat ditanami melalui pembelajaran dilaur kelas khususnya pada materi hijau daun.




BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat yang menjadi lokasi penelitian yaitu pada Kelas V SDN 2 Payunga Kecamatan Batudaa Kabupaten Gorontalo. Waktu pelaksanaan penelitian yaitu pada bulan desember 2009.

3.2 Metodelogi Penelitian
Penelitian ini dirancang untuk melihat efek dari penerapan pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar dengan metode penelitian deskriptif.

3.3 Prosedur Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang akurat dan benar dilapangan akan dilakukan dengan menggunakan prosedur pengumpulan data :
3.3.1 Wawancara
Teknik ini digunakan untuk memperoleh data dalam bentuk tanya jawab dengan guru kelas dan guru mata pelajaran IPA di kelas V SDN 2 Payunga Kecamatan Batudaa Kabupaten Gorontalo.
3.3.2 Observasi
Mengamati langsung tentang kejadian- kejadian atau tingkah laku yang terjadi dilokasi penelitian.
3.4 Prosedur penelitian
3.4.1 Tahap persiapan
Adapun hal-hal yang dilaksanakan pada tahap persiapan ini adalah:
1. Meminta izin kepada sekolah serta meminta persetujuan dari guru yang terkait dengan penelitian.
2. Mengadakan wawancara dengan semua pihak yang terlibat dalam proses pembelajaran untuk pelaksanaan penelitian tidakan kelas.
3. Penyiap atministrasi pembelajaran berupa alat bantu mengajar, buku nilai.
4. Menyusun kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan selama proses pembelajaran baik menyangkut kegiatan guru maupun kegiatan siswa.
5. Penyusun istrumen pemantauan baik terhadap guru maupun aktivitas siswa, serta menyusun alat evaluasi berupa soal atau test.
3.4.2 Tahap pelaksanaan
Tahap pelaksanaan tindakan pada kegiatan penelitian yakni dengan mengadakan wawancara dan observasi pada pembelajaran IPA di kelas V SDN 2 Payunga.
3.4.3 Tahap pemantauan dan evaluasi
Tahap pemantauan dan evaluasi dilaksanakan dari masing-masing tahap persiapan sampai akhirnya tahap pemantau dilaksanakan terhadap guru dan siswa, sedangkan evaluasi dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung dan mengadakan evaluasi akhir.
3.5 Teknik Analisis Data
Pada tahap ini semua data yang diperoleh dari hasil pemantauan dan evaluasi dianalisis baik secara kualitatif dan hasilnya akan digunakan untuk merefleksi diri apakah pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar telah terapkan dengan baik ataupun belum.




BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Hasil Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kelas V SDN 2 Payunga Kecamatan Batudaa Kabupaten Gorontalo, dengan jumlah siswa 23 orang terdiri dari 15 laki-laki dan 8 perempuan.
Salah satu tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah mendeskripsikan pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar IPA di sekolah, khususnya di kelas V SDN 2 Payunga Kecamatan Batudaa Kabupaten Gorontalo.
Dari penelitian yang dilakukan melalui kegiatan observasi pada pembelajaran IPA melalui pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar, maka di peroleh data tentang pemanfaatan lingkungan sebagai belajar adalah :
a. Memantau Proses Pembelajaran IPA di kelas V
Proses pembelajaran IPA di kelas V yang telah dilaksanakan di SDN 2 Payunga Kecamatan Batudaa Kabupaten Gorontalo pada semester I (ganjil) mengajarkan Kompetensi Dasar tentang Alat Pernapasan, Pencernaan Makanan pada Manusia, Peredaran Darah, Pembuatan Makanan pada Tumbuhan, Penyesuaian Diri Makhluk Hidup terhadap Lingkungannya, Sifat Benda, Perubahan Sifat Benda. Hingga saat ini, pelaksanaan pembelajaran dari semua topik yang telah di sebutkan di atas telah dilaksanakan sesuai dengan kurikulum dan Satuan Acara Pembelajaran.
b. Pemanfaatan Lingkungan sebagai Sumber Belajar IPA
Sesuai dengan Kompetensi Dasar yang telah di ajarkan di kelas V SDN 2 Payunga Kecamatan Batudaa Kabupaten Gorontalo, hal ini dikaitkan dengan pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar. Beberapa di antaranya adalah pemanfaatan teman sebaya dalam media peraga dalam materi Alat Pernapasan, pada materi Pembuatan Makanan pada tumbuhan digunakan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar dengan memanfaatkan media pembelajaran tanaman yang ada di sekitar sekolah untuk dijadikan media pembelajaran. Pada materi Penyesuaian Diri Makhluk Hidup terhadap Lingkungannya di manfaatkan hewan yang ada di sekitar sekolah sebagai bahan pengamatan, pada materi Sifat Benda dan Perubahan Sifat Benda di manfaatkan media dari lingkungan berupa besi tua, es batu, bebatuan.
c. Motivasi Siswa dalam Belajar
Dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar, motivasi siswa sangat antusias dalam mengikuti proses pembelajaran. Hal dapat dilihat dari kurangnya siswa yang ribut, siswa aktif dalam proses pembelajaran, serta pemahaman siswa dalam proses pembelajaran meningkat.
d. Hasil wawancara dengan Guru Mata Pelajaran IPA di kelas V
Setelah dilaksanakan proses pembelajaran, data penelitian diperlengkap dengan wawancara dengan guru bidang studi IPA kelas V. dari hasil wawancara diperoleh dapat disimpulkan inti dari wawancara adalah pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar ternyata dapat memberikan dampak positif yang luar biasa kepada siswa serta pemanfaatan lingkungan sebagai media dalam pembelajaran lebih mengirit biaya.

Setelah melaksanakan penelitian, tujuan utamanya agar hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar di Kelas V SDN 2 Payunga Kecamatan Batudaa Kabupaten Gorontalo mampu meningkat.

4.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian di atas, jelaslah bahwa pembelajaran IPA yang memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar dapat memberikan dampak yang positif bagi keberhasilan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Hal ini dibuktikan dengan motivasi belajar siswa dalam proses pembelajaran yang sangat antusias dalam mengikuti proses pembelajaran serta keaktifan siswa dalam pembelajaran.
Dalam pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar dapat ditempuh dengan cara melakukan kegiatan dengan membawa peserta didik ke lingkungan, seperti survey, karyawisata, berkemah, praktek lapangan dan sebagainya. Bahkan belakangan ini berkembang kegiatan pembelajaran dengan apa yang disebut out-bond, yang pada dasarnya merupakan proses pembelajaran dengan menggunakan alam terbuka. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar memberi angin segar kepada peserta didik dalam melakukan pembelajaran, dengan media yang baru bagi siswa dan tidak asing dalam kehidupan sehari-hari lagi bagi siswa maka akan memberikan rasa aktif kepada siswa dalam proses pembelajaran.
Dengan memahami keberhasilan tersebut, dapat disimpulkan beberapa contoh sumber belajar dari lingkungan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar yakni : sawah, hutan, pabrik, lahan pertanian, gunung, danau, peninggalan sejarah, musium, batuan, tumbuh-tumbuhan, binatang, peralatan rumah tangga, hasil kerajinan.






BAB V
PENUTUP

5.1 Simpulan
Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya, maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar telah memberi implikasi dalam memacu peningkatan pemahaman belajar siswa serta memberikan banyak keuntungan yakni Menghemat biaya, praktis dan mudah dilakukan dan diperoleh, memberikan pengalaman yang riil kepada siswa, pelajaran lebih aplikatif.
5.2 Saran
Berdasarkan simpulan di atas, maka dapat diajukan saran sebagai berikut:
5.2.1 Pelaksanaan tindakan guna menigkatkan hasil belajar siswa dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar agar lebih ditingkatkan dan dikembangkan lagi sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
5.2.2 Penelitian ini perlu diterapkan oleh setiap guru, agar siswa betul-betul paham dengan materi yang disajikan, guru hendaknya melaksanakan model pembelajarannya sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran yang relevan dengan materi pelajaran.
5.2.3 Sekolah sebagai supervisi diharapkan dapat mengupayakan peningkatan hasil belajar siswa disemua mata pelajaran, senantiasa memantau dan mengevaluasi proses belajar mengajar yang dilaksanakan oleh guru, memberikan pembinaan secara berkala kepada guru, agar tujuan yang telah dirumuskan bersama oleh pihak sekolah dapat terwujud dengan baik.




DAFTAR PUSTAKA

Djamarah, Zain. 2003. Media Pembelajaran. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada

http:www.google.artikel pembelajaran. PelangiNett.Gorontal

http://id.wordpress.com/tag/kurikulum-dan-pembelajaran/diterbitkan pada tgl 15 desember 2008.

Samatowa, Usman.2006. Bagaimana Membelajarkan IPA Di Sekolah Dasar. Jakarta : PT. Pustaka Indonesia Pres.

Sumartono, 1987. Strategi Belajar Mengajar. Depdikbud, Dirjen Pendidikan Tinggi Proyek PGSD.

Suparno, Suhaenah 1999. Pemanfaatan Dan Pengembangan Sumber Belajar Pendidikan Dasar. Depdikbud. Jakarta.

Syah, Muhibbin. 2001. Psikologi Belajar. Jakarta : Logos Wacana Ilmu

Wibowo, Basuki. 1993. Media Pengajaran: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Jakarta

Winataputra, dkk. 1993. Strategi Belajar Mengajar. Depdikbud: Jakarta.

1 komentar: